Thursday, March 7, 2019

I Wish I Knew: What's in an Hospital Bag

Seperti yang saya janjikan pada post While You're Pregnant, kali ini saya mau share salah satu persiapan kelahiran yang paling penting: Hospital Bag atau tas yang nantinya akan dibawa ke rumah sakit, supaya kalau sudah kontraksi, atau ketuban pecah, tidak usah bingung menyiapkan barang-barang bawaan lagi, tinggal bawa saja.
Selain untuk yang berencana lahir normal, anda yang berencana melahirkan dengan metode caesar juga perlu menyiapkan hospital bag ya, untuk jaga-jaga aja. Sebaiknya hospital bag ini disiapkan sebelum memasuki trisemester ketiga.

Dulu saya juga baru tahu hospital bag ini dari internet, tapi tentu berbeda sumber, beda pula saran yang diberikan. Dan itu tentu saja tergantung pada masing-masing orang, tentang apa yang perlu dan tidak perlu. Jadi sekarang saya akan membagikan list saya, dan akan saya bahas apakah kenyataannya barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

  • 2 pasang baju untuk ibu: 1 untuk cadangan baju di rumah sakit, dan 1 untuk dipakai saat pulang dari rumah sakit
Baju untuk ibu ini memang penting. Dulu saya bawa beberapa piyama untuk dipakai di RS, dan ternyata juga tidak terlalu terpakai, karena nanti kita akan dipinjami baju rumah sakit. Tapi tetap perlu baju cadangan, terutama untuk persiapan saat pulang. Tapi satu hal yang saya pelajari dari pengalaman saya: bawa baju yang bisa digunakan untuk menyusui! Karena saya dulu nggak kepikiran sama sekali kalau saya akan sering menyusui bayi. ASI bakal keluar atau tidak saja, saya masih belum yakin. Baru deh waktu mau pulang dari RS, saya ganti baju dan anak saya nangis, mau menyusui tapi baju yang saya bawa itu rok terusan yang modelnya seperti daster (maklum karena masih terlihat buncit, biar nggak kelihatan). Akhirnya saya ganti baju piyama untuk pulang dari RS.


  • Bra Menyusui
Jangan lupa untuk menyiapkan juga bra khusus untuk menyusui, karena capek loh kalau harus lepas pasang bra untuk menyusui. Untuk awal kelahiran, lebih baik gunakan bra menyusui yang tidak berkawat dan ber spons. Tapi sediakan juga bra menyusui dengan spons atau kawat untuk digunakan ketika bepergian. Oh iya, siapkan juga breast pad karena mungkin ASI bisa bocor dan tembus ke baju.

  • Baju untuk bayi foto dan saat pulang dari RS
Dulu saya tidak menyiapkan baju apa-apa untuk foto, jadi bajunya dipinjami dari rumah sakit. Mungkin lucu juga sih kalau saya bawakan kostum bayi supaya fotonya lebih bagus. Selain itu, saat pulang dari rumah sakit, saya bawakan baju lengan panjang dan celana panjang supaya hangat di perjalanan.

  • Pampers cadangan
Di rumah sakit, bayi saya dipakaikan pampers merk Cuddles. Untungnya dia cocok-cocok saja, tidak ada iritasi apapun. Tapi sebaiknya berjaga-jaga bawa beberapa pampers sendiri supaya kalau ada iritasi tetap ada pilihan lain.

  • Baju ganti untuk suami
Selain peralatan untuk ibu dan anak, jangan lupakan suami juga ya... Sediakan beberapa dalaman, baju rumah dan baju pergi, karena bisa digunakan untuk menemui pengunjung.

  • Lip Balm
Kalau anda sudah baca pengalaman saya selama hamil sampai melahirkan (anda bisa baca di sini), maka anda akan tahu alasannya kenapa akhirnya saya memutuskan untuk operasi, padahal tanpa rencana apa-apa. Nah untungnya saya membawa lip balm, karena bibir saya sempat terasa pecah-pecah. Memang sebelum operasi, prosedurnya adalah puasa dulu beberapa jam. Setelah operasi pun, tidak boleh minum air banyak-banyak dulu. Apalagi di ruang operasi itu sangat dingin, ditambah perasaan deg-degan mengetahui kalau perut kita ini mau disayat. Nggak tahu deh sepucat apa wajah saya waktu itu. 

  • Surat-surat untuk membuat akte lahir
Sekarang, sudah ada layanan pembuatan akte lahir oleh rumah sakit. Jadi anda hanya perlu menyiapkan surat-surat yang dibutuhkan, seperti KTP anda dan suami, akte pernikahan, dan KK. Tapi coba cek dulu di daerah anda, siapa tahu persyaratannya berbeda. Dengar-dengar, sekarang juga akan diberlakukan KTA atau KTP Anak, dan bisa diurus ketika di RS juga. Jadi lebih baik diurus sekalian dengan akte kelahiran.

  • Minyak kayu putih dan kaus kaki
Setelah keluar dari ruang operasi, badan rasanya dingin sekali, dan baru kembali normal setelah beberapa minggu. Jadi saya dulu pakai minyak kayu putih, kaus kaki, dan selimut tebal (dari RS) untuk menghangatkan badan.

  • Beberapa pembalut nifas (versi saya: adult diapers/popok dewasa)
Saya sempat diberitahu oleh seorang keluarga, kalau ia dulu pakai adult diapers setelah melahirkan. Dan ternyata benar juga, saya sempat pakai pembalut untuk malam hari yang paling panjang, dan ternyata masih kurang nyaman karena bocor (darah nifas memang banyak di awal). Cukup repot juga karena terkena celana dalam dan nanti pulang harus cuci-cuci lagi (saya biasa cuci dalaman sendiri). Kalau pakai adult diapers, tinggal pakai saja, tidak mungkin bocor, dan setelah selesai tinggal dibuang. Tapi saya pakai adult diapers cuma beberapa hari setelah melahirkan, setelah itu lanjut pembalut biasa.

  • Sabun shampoo, handuk
Saya sudah menyiapkan perlengkapan mandi seperti sabun, shampoo, dan handuk, yang ternyata sudah disiapkan oleh pihak RS, jadi tidak terpakai. Tapi lebih baik tanyakan dengan pihak rumah sakit pilihan anda dulu ya.

  • Sikat gigi
Biasanya kalau berpergian dan menginap di hotel, walaupun disediakan sikat gigi dan pasta gigi, saya dan suami selalu pakai milik sendiri. Jadi barang ini harus ada di tas.

  • Make up dan sisir
Tidak usah bawa banyak alat make-up, tapi bawa yang dasar-dasar saja seperti pensil alis, bedak, dan lipstik. Dulu saya tidak mempersiapkan hal ini, jadi muka saya benar-benar kelihatan pucat dan kusut.


Kira-kira itulah list hospital bag ala saya. Mungkin menurut ibu-ibu atau pembaca sekalian, masih ada yang kurang? Boleh di-share ke saya di kolom komentar ya :)

Tuesday, March 5, 2019

Back to Nature: Menstrual Cup Review (Blossom dan AIWO)

Mumpung ada kesempatan untuk menulis, saya ingin membagikan review dari benda yang lagi hot di Indonesia nih, padahal aslinya sudah muncul lama di luar negri. Saya juga baru berani coba beberapa bulan lalu, dan saya sendiri selalu cari review-nya dulu kalau akan membeli barang. Berhubung review tentang menstrual cup ini masih jarang ada versi Indonesianya, jadi saya buat ini untuk mendukung para wanita lain untuk ikut mencoba. Semoga review ini berguna.



1. Blossom Cup
Menstrual cup ini saya beli dari Tokopedia, dengan harga 345.000. Cukup mahal sih menurut saya kalau buat barang sekecil itu *ibu ibu pelit*. Oleh karena ituuu saya tidak mau beli yang harganya 600 ribuan dulu, walaupun merknya lebih terkenal. Tapi untuk Blossom Cup ini sudah saya baca review-nya di Google dan banyak banget yang bilang bagus. Jadi saya coba deh.
Blossom Cup
Blossom Cup
Setelah barangnya datang, saya cukup senang karena ternyata bentuknya tidak sekaku yang saya bayangkan. Cukup lentur tapi tidak rapuh. Punya saya persis seperti itu, warna pink, dan karena saya tidak melahirkan normal seperti yang saya inginkan, maka saya beli ukuran yang kecil. Menstrual cup ini punya empat lubang kecil di bagian atasnya, dan ada batang atau stem di bagian bawah. Oiya di dalam kotaknya juga ada kantung kecil dari kain yang imut, untuk membawa menstrual cup ini kalau bepergian. Selain itu ada juga panduan untuk pemakaian menstrual cupnya.

Setelah saya coba gunakan, menurut saya sih cukup nyaman (kecuali saat pertama kali memasukkan dan mengeluarkan, karena itu yang paling sulit). Tapi setelah beberapa kali, sudah terbiasa, menurut saya nyaman sekali karena tidak ada rasa basah dan lembab seperti ketika memakai pembalut. Selain itu saya bisa tidur dengan nyaman di malam hari, tidak takut tembus. Memang sih masih ada spotting, jadi saya tetap pakai pantyliner untuk jaga-jaga.
Untuk stem-nya, kalau untuk saya itu masih terlalu panjang, jadi saya potong sedikit dan dirapikan dengan gunting kuku agar pinggirannya tidak tajam. Dan ini kalau untuk saya yang biasanya menstruasi cuma sampai medium flow, masih agak kurang besar daya tampungnya. Jadi kalau biasanya menstruasi anda flow-nya banyak, mungkin bisa pakai model lain yang daya tampungnya lebih besar.


2. Lunette Feelbetter Menstrual Cup Cleanser
Saya juga beli sabun khusus pencuci menstrual cup. Karena bahannya silicon, saya tidak yakin sabun apa yang harus digunakan untuk mencuci selain sabun khususnya Saya sempat berpikir untuk pakai sabun cuci alat makan bayi. tapi tulisannya tidak boleh memakai sabun cuci piring juga.
Jadi untuk sabunnya saya beli merk Lunette. Harganya mahal, sekitar 200 ribu lebih, tapi isinya cukup banyak, dan pakainya cuma butuh sedikit sekali. Jadi (seharusnya) awet.
Lunette Feelbetter Menstrual Cup Cleanser
Teksturnya cair, warnanya bening, dan baunya cukup enak. Tidak terlalu wangi, tapi ada wangi segar-nya. Memang dengan beberapa tetes saja, sudah bisa menyebar di permukaan ya, jadi hati-hati saat pertama kali mengeluarkan sabunnya supaya tidak terlalu banyak. Tidak ada jejak licin-licin juga, jadi tetap terasa bersih.

3. AIWO Menstrual Cup
AIWOO Menstrual Cup
Ini adalah menstrual cup kedua yang saya beli setelah Blossom. Awalnya cukup ragu juga waktu mau beli, sampai saya tunda beberapa minggu. Di internet juga belum banyak review soal menstrual cup ini. Ada sih beberapa review positif di Youtube, yang menambah keyakinan saya untuk beli ini.
Harganya mahal, jauh lebih mahal daripada Blossom. Saya beli dari Shopee seharga 600rb++.
Tapi saya rela untuk bayar idenya yang cukup bagus, karena menstrual cup ini punya valve, atau semacam saluran dengan "klep" untuk mengosongkan isinya. Sebenarnya pada menstrual cup biasa (seperti Blossom) mengosongkannya cukup merepotkan, karena mengeluarkan menstrual cup itu merupakan sebuah tantangan banget waktu baru belajar.
Kalau dibandingkan dengan Blossom, Aiwoo ini lebih kaku dan lebih tebal, agak sedikit lebih besar juga. Tidak sulit sih memasukannya, tapi yang membuat kurang nyaman yaitu stem-nya atau salurannya yang terlalu panjang (kalau buat saya, karena cervix saya posisinya agak rendah). Jadi waktu dipakai itu masih ada yang "nongol" :D. Ada yang bilang bisa dilipat, tapi saya belum berhasil.


Secara keseluruhan, pakai menstrual cup ini cukup nyaman, karena saya belum pernah merasa "bersih" waktu menstruasi. Biasanya kalau pakai pembalut selalu berasa basah dan lembab, dan takut bocor. Kalau pakai  menstrual cup tidak terasa seperti itu lagi, cuma kalau sudah penuh itu terasa seperti keluar udara dan spotting.

Layak dicoba loh untuk ibu-ibu dan para wanita lain. Karena selain ramah lingkungan (karena pembalut kan sekali pakai buang, dibandingkan dengan menstrual cup yang tahan bertahun-tahun), terasa nyaman juga karena bisa merasa "bebas" saat menstruasi. Selamat mencoba!!

Tuesday, February 26, 2019

I Wish I Knew: What & What Not to Buy

Pada post kali ini, saya akan membahas hal-hal yang saya harap saya ketahui ketika mempersiapkan kelahiran dulu. Kalau saya belajar dari kesalahan saya dulu, para pembaca bisa belajar dari kesalahan saya saja ya... Hahaha
Saya harap post ini membantu untuk calon ibu lain supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang saya buat dulu. Tapi perlu saya ingatkan lagi, kebijakan dan pola asuh tiap ibu dapat berbeda, oleh karena itu anda dapat menyikapi tulisan saya dengan bijak. Bila bermanfaat silakan diterapkan, kalaupun tidak cocok bisa diabaikan saja :)

Jadi dulu waktu persiapan kelahiran si buah hati, saya berbelanja berbagai peralatan dan keperluan bayi. Bersamaan dengan mertua dan ibu saya yang excited banget, sampai beli banyak barang walaupun saya sebenarnya tidak minta apa-apa. Saya sendiri juga belanja beberapa barang, tanpa pengalaman apa-apa mengenai perawatan bayi (maklum karena baru anak pertama). Oleh karena itu, ada beberapa barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau sebenarnya butuh tapi membeli jenis yang kurang tepat.

Berikut ini adalah list keperluan bayi yang menurut saya penting sekali dan kurang penting, seperti:

1. Box Bayi: Kayu vs. Portable
Dulu saya kira, box bayi itu penting karena sebagai tempat bayi tidur. Tapi kenyataannya, ketika bayi saya lahir, saya yang menyusui secara eksklusif lebih suka tidur satu ranjang bersama bayi saya (co-sleeping). Kalau bayi menangis, tinggal disusui saja.
Tapi hal tersebut bisa saya lakukan karena saya termasuk orang yang diam ketika tidur, tidak berputar atau menendang, atau bahkan berguling. Jadi saya masih merasa aman ketika tidur bersama bayi.

Kemudian saya berpikir, mungkin masih bisa berguna untuk bayi ketika tidur siang, atau ketika agak besar nanti supaya bisa tidur sendiri. Memang, ternyata cukup berguna ketika bayi masih berumur 0-4 bulan, sebagai tempat tidur siangnya. Namun selain itu, box bayi itu tidak terpakai. Apalagi bayi gampang terbangun ketika diletakkan di ranjang, jadi ketika menidurkan bayi harus sambil disusui. Setelah anak saya agak besar (kira-kira 1 tahun), dia justru tidak mau tidur sendiri karena sudah terbiasa tidur bersama orang tuanya. Saya juga diberitahu perawat kalau tidur bersama itu meningkatkan bonding dengan bayi.

Alhasil, box bayi dari kayu yang berat dan memakan banyak space itu hampir tidak pernah terpakai, hingga akhirnya dibongkar dan dimasukkan gudang.

Box Bayi Portable Nuna

Nah setelah itu saya baru tahu kalau sekarang ada box bayi yang portable, dan sekarang sudah bermacam-macam model dan merknya. Box itu bisa dijadikan box bayi ketika baru lahir, dan bisa dibuat tempat tidur atau bermain ketika bayi sudah agak besar (bagian alasnya bisa diturunkan ke dasar). Bahkan bisa dibawa keluar kota karena gampang melipatnya. Selain harganya jauh lebih murah daripada box bayi yang kayu, box ini mudah dibawa-bawa, dan tetap kuat karena rangkanya dari besi.


2. Alat Steril: Uap, UV, atau Uap kering
Alat Steril Uap

Alat Steril UV
Dulu saya kira alat steril peralatan bayi itu ya semacam alat uap, atau bisa juga direbus di air mendidih. Tapi setelah ada alat steril uap, justru saya dibelikan lagi alat steril yang menggunakan UV, seperti Upang. Selain bisa mensterilkan, Upang juga bisa mengeringkan sisa-sisa air di peralatan bayi setelah dicuci. Alhasil, alat steril uap itu tidak lagi dipakai karena cukup ribet, harus diisi air dulu, dan setelahnya harus dikeringkan lagi dengan tisu. Sedangkan dengan alat steril UV, cukup dicuci dengan sabun cuci piring khusus bayi, kemudian (kalau saya) diciprat-ciprat hingga sisa tetes air yang kecil-kecil, langsung dimasukkan dan pencet tombol.


Alat Steril Uap Kering

Setelah itu beberapa lama kemudian, mertua saya (yang dulu hobi lihat-lihat peralatan bayi) lihat alat steril merk Panasonic, yaitu Dsterile, yang bisa mengeringkan dan mensterilkan, dan bisa memuat banyak peralatan. Berbeda dengan Upang, Dsterile ini menggunakan uap kering. Akhirnya alat inilah yang terpakai hingga anak saya besar, karena sekalian sebagai tempat menyimpan peralatan makannya (piring, mangkuk, gelas, botol minum, sendok garpu, dll).

3. Stroller
Alat ini memang alat yang wajib punya, karena berguna sekali. Selain untuk membawa bayi jalan-jalan, bisa juga untuk tempat menjemur bayi ketika pagi, dan tempat tidur bayi ketika di mall. Apalagi ketika bayi sudah besar dan berat, dan badan sudah mulai pegel-pegel, maka stroller adalah penyelamat.

Einhill Armadillo
Stroller pertama adalah pemberian mertua saya, yang dibeli berdasarkan rekomendasi dari SPG di toko bayi. Memang, stroller ini ringan dan gampang untuk melipat dan membukanya. Desainnya juga bagus karena simple dan ergonomis. Tapi setelah dipakai, ternyata cukup menyulitkan karena memasang sabuknya cukup susah, apalagi di bagian depannya tidak ada penghalang di antara kaki, jadi kalau sabuk tidak dipasang, tidak ada yang mencegah anak "merosot" ke bawah.

Ternyata keluarga besar saya menghadiahi stroller  juga, tapi beda model. Stroller ini rodanya lebih besar, lebih berat, tapi terlihat lebih aman karena kokoh.
Stroller Babyelle
Nah sebenarnya saya juga lupa tipe strollernya apa, tapi yang jelas itu merk Babyelle dan mirip-mirip seperti foto di atas. Bedanya cuma di tengahnya ada pembatas di selangkangan yang nyambung ke gagang pegangan itu. Menurut saya stroller ini lebih enak buat anak bayi, karena nggak perlu lepas pasang sabuk. Terutama anak bayi yang masih belum bisa umek-umek. Rangkanya lebih kokoh juga. Tapi jauh lebih berat daripada Babyelle.

4. Food Processor
Benda satu ini memang penting-nggak penting untuk persiapan MPASI. Karena termakan iklan dari SPG-nya toko bayi, maka saya memutuskan untuk beli food processor merk Babymoov. Yang ini nih tepatnya:


Babymoov Food Processor

Jadi food processor ini diklaim cepat dan praktis, bisa untuk blender dan mengukus secara bersamaan. Memang kalau baru mulai MPASI, bayi harus dikenalkan dari tekstur yang paling lembut (bukan cair ya), jadi perlu blender, dan kemudian diproses dengan cara dikukus. Atau bisa juga dikukus kemudian diblender.
Yang dulu saya tidak tahu, adalah kalau porsi makan bayi kan sedikit, jadi blendernya tidak bisa jalan (karena isinya loncat dan menempel di pinggir-pinggir). Saya juga sudah coba membuat porsi banyak kemudian dibekukan di freezer, jadi kalau mau diberikan tinggal dikukus kembali. Tapi kok kasihan sama bayi saya, toh saya juga bukan ibu bekerja jadi punya waktu untuk masak. Selain itu pisau dan mesin blendernya juga tidak cukup kuat, kalah dengan merk-merk lain yang terkenal. Memang, tujuannya kan untuk makanan bayi. Tapi ternyata juga tidak terpakai kalau porsinya terlalu kecil.........
Jadi..... blender itu tidak terpakai, dan saya sedih sekali sudah beli yang merk ini. Saya malah pakai blender yang biasa untuk bumbu milik keluarga, karena tempatnya kecil dan bisa melumatkan sampai benar-benar halus (tapi itu blender baru jadi bukan bekas bumbu-bumbu loh).
Kalau kukusannya masih terpakai ya, bahkan sampai sekarang anak saya umur 2,5 tahun. Karena sangat simple dan ada timer-nya jadi bisa mati sendiri, daripada pakai dandang yang besar. Sialnya, kukusan itu tidak bisa menyala kalau tidak ada bagian blendernya (karena ada sambungannya di tengah), jadi blendernya tetap ada di meja dapur dan "menuh-menuhin" tempat.

5. Teether
Dulu saya kira-kira sudah beli lebih dari 5 teether, mulai merk Sophie jerapah (yang mahalll), terus yang ada suara krincing-krincingnya, yang dari kain, yang modelnya lucu, dll, dan ternyata semuanya tidak terpakai.
Kenapa bisa banyak banget? Jadi saya beli satu, ternyata anak saya nggak mau. Karena kasihan lihat dia masukin tangannya ke mulut terus, akhirnya saya coba beli model lain. Ternyata nggak mau juga. Terus beli model lain lagi.... Begitu terus sampai saya koleksi banyak, baru saya pasrah kalau mungkin dia memang nggak suka pakai teether. Dan untungnya dia tidak suka memasukkan barang-barang asing ke dalam mulut selain tangannya.


Nah jadi itu dia 5 hal yang menurut saya penting untuk dibagikan, karena siapa tahu ada ibu-ibu lain yang punya pemikiran sama dengan saya, supaya tidak beli barang-barang yang akhirnya tidak terpakai.
Mungkin para pembaca punya pengalaman terlanjur beli barang untuk anak dan akhirnya tidak terpakai? Boleh dong sharing di komentar, atau ngobrol dengan saya di email langsung, silakan :)

Requested Topic: Mengatasi BAPILNAS Tanpa Obat Kimia?

Halo ibu-ibu semuanyaaa... Maaf ya karena saya lama tidak menulis di blog ini, karena akhir-akhir ini rasanya capek dan sibuk dengan kerjaan...