Thursday, May 2, 2019

What's in Our Bag?

Ibu-ibu pasti tahu kan, kalau sudah punya anak bayi, mau pergi kemana-mana itu bawaannya banyakkk. Apalagi kalau ke mall. Yang dulu waktu masih gadis tinggal bawa tas kecil, cuma isi dompet hape dan tissue, sekarang mah nggak bisa.

Sama seperti saya dulu, sejak melahirkan dan pertama kali mau pergi ke mall, saya bingung menata tas dengan barang-barang yang diperlukan oleh si kecil. Jadilah saya bawa diaper bag besar, kayak orang mau minggat. Untung aja ada pak suami yang menemani, jadi bukan saya yang bawa-bawa tasnya :p

Kali ini saya mau membagikan, apa saja isi tas pergi saya dengan anak saya waktu berusia 6 bulan.

1. Pampers cadangan
Yang ini jelas  harus bawa ya, karena kalau waktu pergi tiba-tiba bayi pup, maka harus diganti pampersnya.
2. Baju bayi dan bib cadangan
Kalau bayi berkeringat, atau makanannya tumpah ke baju, bisa langsung ganti baju aja.
3. Alas untuk ganti pampers
Ini cukup berguna, karena kalau misalnya mau ganti pampers di mobil, supaya nggak mengotori jok mobil. Changing pad yang saya punya ini dulu diberikan gratis dari rumah sakit.
4. Selimut, jaket, dan topi bayi
Jaga-jaga kalau misal tempatnya dingin, atau anginnya kencang. Kadang-kadang kita tidak sadar kalau di mall yang biasa kita datangi itu terdapat beberapa spot yang dingin. Kalau punya anak baru sadar, "wah angin AC-nya cukup kencang di sini".
5. Nursing Cover
Ini berguna sekali, kalau tiba-tiba bayi minta menyusu, tinggal pakai saja. Jangan lupa pilih yang bahannya tidak tembus pandang tapi tetap adem ya.
6. Tissue kering dan tissue basah antiseptik
Ini berguna untuk mengelap makanan yang tumpah, atau membersihkan tangan bayi sebelum makan.
8. Hand sanitizer
Berguna untuk membersihkan tangan orang tuanya ketika tidak sempat cuci tangan pakai air dan sabun.
9. Minyak telon
Kalau bayi tiba-tiba masuk angin atau rewel, karena terkadang (sering sih) ada beberapa hal yang tidak bisa diprediksi dari anak.
10. Botol minum anak.
Karena walaupun sudah minum ASI, tetap harus minum air putih setelah makan.
11. Barang-barang ibunya.
Setelah 10 poin di atas barang-barang anak semua, yang satu ini baru barang ibunya, seperti dompet, handphone, botol minum dan lipstik/lipbalm.

Emang repot deh kalau mau bepergian ketika sudah ada anak. Tapi bahagia juga ketika lihat si kecil senang waktu jalan-jalan.
Kalau barang bawaan versi ibu-ibu lainnya gimana? Boleh share di komentar ya :)

Sunday, March 31, 2019

Back to Nature: Review Sensatia Botanicals


Kali ini saya mau menulis tentang produk skincare, merk lokal Sensatia Botanicals yang diproduksi di Bali. Sensatia Botanicals ini sudah tersertifikasi organik dan halal.
Belakangan ini, sejak hamil saya suka cari produk-produk yang bebas paraben, bahkan kalau bisa yang lebih natural lagi. Yang minim bahan kimia.


Sebelum coba Sensatia Botanicals, saya sempat coba Gentle Cleanser merk Cetaphil, karena banyak banget yang bilang bagus dan enak dipakainya. Saya lihat komposisinya di internet dan memang aman dari paraben, malah komposisinya simple banget. Tapi satu yang saya heran, yaitu masih mengandung SLS (detergen).

Saya sempat coba 2-3 kali untuk cuci muka, kulit saya mulai terasa panas. Mulai dari muka sampai bahu bagian atas jadi merah-merah dan terasa panas kalau dipegang. Dan hal ini berlangsung selama beberapa hari. Waktu itu saya sudah coba berhenti pakai Cetaphil Gentle Cleanser-nya, tapi setelah sudah membaik, saya jadi takut mau pakai lagi. Memang sebenarnya belum tentu itu gara-gara Cetaphilnya, bisa saja saya alergi akan sesuatu. Tapi anehnya saya tidak makan makanan yang tidak biasanya saya makan, dan kebetulan terjadi waktu saya habis ganti sabun muka. Karena sudah terlanjur pesimis sama "Gentle Cleanser" itu, jadi saya jual lagi di Carousell dengan harga murah.

(nb: saya juga pernah pakai body lotion-nya Cetaphil, tapi kulit saya tidak apa-apa, malah menurut saya bagus banget karena awalnya kulit saya kering parah, dan kembali normal setelah pakai body lotion-nya)

Karena kejadian itu, saya coba cari-cari di internet lagi dan kebetulan nemu Sensatia Botanicals ini, yang punya sabun cuci muka "Soapless Facial Cleanser". Saya langsung tertarik beli karena lihat produk-produk lainnya juga semuanya organik.

Setelah barangnya datang dan saya coba, saya langsung jatuh cinta. Memang pertama kali agak kaget sama baunya, karena pakai bahan-bahan alami jadi kayak bau bunga-bunga dan bau tanaman gitu. Sebenarnya ada yang varian unscented, mungkin baunya lebih samar ya. Tapi waktu dipakai di muka rasanya enak banget, tidak membuat kulit kering sekaligus memberi rasa bersih juga. Dan terutama, tidak membuat kulit saya merah dan terasa panas.

Tapi kembali lagi, memang untuk suatu produk, tidak bisa sama hasilnya untuk semua orang ya. Karena ibu saya coba pakai produk itu, tapi malah muncul jerawat. Adik ipar saya juga coba tapi malah "mrintis" (muncul kasar-kasar atau seperti jerawat kecil-kecil). Kalau saya cocok dengan pembersih wajah ini karena memang kulit saya tipe kering ke normal. Mungkin untuk tipe kulit mudah berjerawat bisa pakai yang varian "Acne Clarifying Facial Cleanser".





Merasa cocok dengan Facial Cleanser-nya, saya kemudian coba produk-produk lain juga.
1. Cocoa & Honey Lip Bliss
Lip balm ini baunya enak karena bau coklat, dan ada rasa mint-mintnya. Setelah diaplikasikan di bibir, cukup enak juga karena memang melembabkan bibir saya yang lagi kering parah. Tapi memang gampang hilangnya yah, jadi harus sering dipulas lagi.


2. Hydrating Body Wash
Jadi ini sabun mandi cair (sebenernya mereka juga punya sabun mandi batangan tapi saya lebih suka pakai yang cair biar nggak ribet), dan menurut saya ini memang hydrating seperti namanya. Saya dulu sering sekali mengalami kulit kering di badan, terutama kaki bagian bawah lutut. Tapi saat pakai sabun ini, saya hampir tidak pernah mengalami "kekeringan" itu lagi. Mantul banget lah pokoknya. Sabunnya cukup berbusa juga kok walaupun tanpa detergen/SLS.

3. Hydrating Shampoo
Nah untuk produk ini sebenarnya saya kurang suka. Kenapa? Soalnya hampir nggak berbusa. Sedangkan saya sudah terbiasa keramas dengan banyak busa, karena terasa lebih bersih. Jadi pakai shampoo ini berasa kurang bersih gitu di kulit kepala. Kalau rambutnya sih, setelah dibilas memang terasa jadi keset, tapi waktu keramasnya itu loh, kayak kurang greget aja. Dan produk ini kayak kurang bisa nyebar, jadi saya harus ambil samponya agak banyak.

4. Hydrating Conditioner
Beda jauh sama shampoo-nya, kalau conditionernya ini saya sukaaa banget. Saya inget kepala saya dulu pernah gatal-gatal gara-gara pakai conditioner (merk sebangsanya pantene dll) di kulit kepala. Selain itu kepala juga jadi berminyak parah. Nah kalau conditioner ini, memang cara pakainya dari kulit kepala sampai ke ujung rambut. Jadi menurut saya ini untuk menyeimbangkan shampoo-nya. Walaupun shampoo-nya bikin rambut keset dan nyangkut-nyangkut, tapi setelah pakai ini jadi bener-bener mulus. Dan setelah dibilas, nggak membuat kulit kepala berminyak ataupun gatal-gatal. Cuma terasa lembut, itu ajah.
5. Cleopatra's Rose Facial Hydrate
Saya dapat produk ini dari adik ipar yang kebetulan pulang dari liburan di Bali (lumayan, dapat oleh-oleh). Untuk produk satu ini, sayang banget saya kurang suka. Pelembab ini bahan dasarnya minyak, jadi setelah diratakan di wajah juga terasa berminyak. Saya selalu pakai malam sehabis cuci muka, dan setelah beberapa hari malah di wajah saya ada spot yang kering banget, sampai terasa kasar-kasar dan mengelupas kecil-kecil. Sedih banget rasanya. Mungkin salah saya, karena di petunjuknya sudah ditulis untuk pakai toner dulu. Masalahnya dulu saya belum punya tonernya... Hehehe


6. Karena kulit saya kering, akhirnya saya jadi coba beli toner-nya, yang Neroli Blossom. Ini menurut saya bagus banget untuk yang kulitnya kering seperti saya. Toner ini seperti mist spray, jadi disemprotkan ke wajah dan tinggal diratakan dengan tangan. Saya kombinasikan ini dan Bio Oil, jadi setelah toner-nya kering (keringnya cukup cepat dan meresap di kulit, walaupun tanpa alkohol), saya oleskan Bio Oil di bagian-bagian yang kering. Alhasil setelah hampir seminggu, kulit saya sudah kembali mulus.

7. Barengan sama toner-nya, saya juga coba face scrub untuk menghilangkan sel-sel kulit mati. Baunya agak menyengat sih, tapi setelah dipakai cukup enak juga karena tidak membuat kulit wajah jadi kering.
Minusnya kalau menurut saya sih... Mungkin bulir-bulir scrub-nya agak kurang kecil. Saya masih merasa bulir-bulis scrub di sabun cuci muka seperti biore, ponds dll itu masih lebih kecil dan lebih bisa "menggosok" wajah dengan lembut. Tapi ingat, Sensatia ini scrubnya organik dari kelapa, sedangkan yang di sabun muka itu dari silica. Jadi ada plus-minusnya sendiri ya.

Jadi.... yah secinta itu saya sama Sensatia Botanicals. Walaupun memang ada beberapa yang kurang cocok di saya, tapi saya bisa maklumi mengingat ini organik. Malah produk-produk lainnya saya suka bangettt.

Jadi untuk ibu-ibu yang sedang hamil dan menyusui, bisa banget coba produk ini yah. Untuk lainnya yang mau coba pakai produk alami, ini bener-bener bagus. Apalagi ini produksi lokal lhoo. Ayo kita cintai produk Indonesia!

Friday, March 22, 2019

Sharing Session: Weaning Story (Menyapih)


Buat yang sudah baca tulisan saya tentang Lemonilo, mungkin sudah tahu kalau saya masih menyusui (ASI) sampai anak saya umur 2,5 tahun.


Sebenarnya ada banyak pertimbangan kenapa saya tidak menyapih sejak awal, atau pas ketika umurnya 2 tahun. Tapi yang pertama pertimbangan saya itu adalah, karena anak saya itu nggak suka minum susu sapi. Saya sudah coba berbagai macam susu, mulai dari susu formula, dan UHT seperti Bebelac Go, Chill-Go, Greenfield, Frisian Flag, Ultra Mimi, Indomilk, dengan berbagai macam rasa. Saya juga belinya yang ukuran imut-imut itu loh, dan anak saya itu minumnya cuma berapa teguk terus nggak mau lagi. Kalau dirayu-rayu mau minum beberapa teguk lagi. Tapi intinya nggak pernah sampai habis, setengah pun jarang.

Selain itu, faktor mindset saya sendiri, karena saya kasihan kalau dia harus kehilangan hal yang dia sukai. Biasanya anak saya selalu tidur sambil menyusu, kalau bosan, menyusu. Setelah tidak bertemu seharian juga minta susu. Seperti yang ibu-ibu tahu, menyusui itu memang bonding time yang berharga sekali. Menyusui itu suatu anugrah yang indah dan saya saat itu belum rela melepaskannya.

Kemudian ketika anak saya memasuki usia 2,5 tahun, saya mulai mengurangi intensitas menyusunya. Terutama ketika liburan ke kampung halaman selama tiga hari. Saat itu, setiap hari selalu pergi bersama keluarga besar. Jadi perhatiannya teralihkan karena berada di suasana dan orang-orang yang "tidak biasanya". Selama 3 hari itu saat siang ia tidak pernah minta menyusu. Sisa pagi bangun tidur, dan malam hari. Kemudian setelah pulang ke Surabaya, saya ingin melanjutkan intensitas tersebut, bahkan menguranginya secara bertahap.

Kalau siang hari, saya memberinya pengertian, kalau sudah besar tidak bisa menyusu lagi karena sudah bukan baby. 3-5 hari awal memang berat saat waktunya tidur siang, karena dia sudah mengantuk tapi tidak diperbolehkan menyusu, kemudian marah-marah. Jadi saya gendong-gendong dan dinyanyikan sampai tertidur. Rasanya jadi seperti kembali saat dia bayi...


Saya mulai berpikir kalau mungkin menyapih ini tidak akan menghentikan kedekatan saya dengan anak saya, tapi Tuhan menggantikannya dengan cara lain.

Setelah berlangsung sekitar 2 minggu, kemudian pada suatu "momen" :p, suami saya bilang kalau ASI saya rasanya kecut. Saya jadi agak takut dan kemudian cari-cari di internet. Dari hasil browsing yang saya dapat, bisa saja itu karena saya kurang makan karbohidrat. Saya memang saat itu sedang mengurangi makan, karena berat saya sejak melahirkan masih nyantol 3 kilo. Jadi mungkin saja terjadi penumpukan asam laktat, karena tidak ada karbohidrat yang bisa diubah jadi gula. (Setidaknya itu yang saya tangkap)

Saya jadi makin mantap untuk menyapih, karena kasihan kalau anak saya harus minum ASI yang rasanya asam. Malah saya membayangkan kalau itu berbahaya untuk lambungnya (meskipun saya tidak tahu sebenarnya begitu atau tidak).

Dalam suatu pembicaraan dengan anak saya saat sebelum tidur, anak saya hatinya sedang ceria. Kemudian saya ambil kesempatan itu untuk beritahu, kalau besok sudah tidak menyusu lagi kalau mau tidur. Dan dia jawab iya. Kemudian saya yakinkan lagi, dan jawabnya tetap iya. Besoknya, ternyata dia masih minta menyusu, tapi untunglah suami saya suportif dan berusaha mengalihkan perhatiannya. Begitu terus yang saya lakukan selama beberapa hari kemudian. Saya selalu ingatkan kalau dia sudah besar, dan dihibur dengan rencana-rencana untuk anak yang sudah besar (anak saya minta main roller coaster). Saya berjanji untuk mengajaknya ke taman hiburan dan naik wahana di sana (tentunya bukan roller coaster).

Dan itulah, sejak itu anak saya sudah berhenti minum ASI lagi. Saya selalu berusaha untuk memberi susu sapi, tapi dia tidak suka. Jadi saya beri produk-produk turunan susu seperti yoghurt anak-anak dan keju yang untungnya dia sangat suka. Selain itu saya juga berikan suplemen kalsium untuk anak, supaya kebutuhan kalsiumnya tetap terpenuhi.

Jadi tips saya untuk ibu-ibu lainnya:
1. Kalau menurut saya, menyapih itu lebih baik bertahap dan perlahan. Saya tidak mau pakai metode puting diwarnai, diberi kayu putih atau sebagainya, karena saya tidak mau berbohong. (Saya pernah baca tentang "jangan berbohong pada anak jika tidak ingin dibohongi oleh anak anda").
Note: Tapi tentu ini tidak bisa diterapkan kalau harus menyapih karena kondisi yang terpaksa, seperti karena sakit, dsb.

2. Beberapa hari pertama memang berat, tapi jangan menyerah dan tanamkan pemikiran yang mantap. Mengertilah kalau anak anda hanya ingin menyusu untuk merasa dekat dengan anda, karena itulah yang dilakukannya sejak lahir. Biasanya mereka mencari hal lain untuk menggantikan "ritual" menyusu sebelum tidur. Kalau anak saya sekarang ingin tidur ditemani ayah ibunya (biasanya cuma cari ibunya saja).

3. Setelah berhenti menyusui, mungkin anda akan kagum dengan perubahannya. Anak saya makannya jadi lebih lahap dan beratnya naik satu kilo (padahal biasanya susahhh sekali menaikkan beratnya). Selain itu, ketika tidur malam, saya bisa menyaksikan bonding antara dia dan ayahnya yang sekarang selalu disayang-sayang. Padahal dulu termasuk jarang cari ayahnya.


Jadi begitu ibu-ibu cerita menyapih ala saya... Bagaimana dengan anda? Cerita yuk.


Requested Topic: Mengatasi BAPILNAS Tanpa Obat Kimia?

Halo ibu-ibu semuanyaaa... Maaf ya karena saya lama tidak menulis di blog ini, karena akhir-akhir ini rasanya capek dan sibuk dengan kerjaan...